Kamis, 10 Januari 2013

Tulisan 26



CERPEN : MENANTI KABAR AYAH

Aku duduk menantang angin malam, sendirian. Ini sudah malam ke-empat aku termangu di balkon rumahku, menunggu Ayah.

Ayahku pergi lima hari yang lalu kesuatu tempat di luar kota, dan dua hari setelah keberangkatan Ayah, terjadi gempa hebat yang meluluhlantahkan hampir seluruh daerah di kota kecil itu, kota tempat tujuan Ayah.
Hampir seluruh tetangga iba melihatku, anak laki-laki pincang berusia 10 tahun yang hampir sepekan ini menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu kabar kepastian sang ayah.
***

Pagi ini adalah hari kesembilan setelah berita kejadian gempa itu, namun aku belum mendapatkan kabar tentang Ayah. Setelah menyuapi ibu sarapan pagi, aku kembali melakukan ritual yang sudah lebih dari sepekan ini aku lakukan, memeluk lutut di balkon rumahku, tak sabar menanti kepastian kabar Ayah.
Setiap hari, jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat jika mengingat betapa dahsyatnya gempa itu. “Apakah Ayah selamat? Atau….” Kalimat semacam itu yang selalu membanjiri hampir seluruh isi kepalaku. Lalu seutas doa terpanjat dalam hatiku, selalu, kemudian kuamini.

Kadang, tubuhku bercucuran keringat dingin, itu ketika aku mengingat masa-masa bersama Ayah. Aku gelisah. Mengapa aku belum juga mendapat kabar tentang Ayah? Lalu seperti biasa, sebait harapan kupanjatkan pada Yang Maha Kuasa.
Tiba-tiba ada keramaian yang membuyarkan lamunanku. Rangkaian kenangan tentang Ayah terurai seiring semakin kencangnya suara sirine ambulance.
Tepat di depan rumahku, sebuah mobil putih berhenti. Tiba-tiba jantungku berdetak sangat cepat, tak terkendali. Denyut nadiku tak berirama lagi. Tanganku gemetar, dan basah.
Sudah sembilan hari aku menunggu, dan akhirnya aku akan melihat lagi wajah Ayah. Aku yakin, sangat yakin bahwa Ayah ada didalam mobil putih itu.

Sambil mencoba mengatasi segala macam kekacauan yang kurasakan, aku setengah berlari menuruni jajaran anak-anak tangga yang entah mengapa terasa lebih banyak dari biasanya.
Aku membuka pintu depan. Sepertinya aku sudah ditunggu.
Entah dengan ancang-ancang atau tidak, seorang wanita memelukku erat, sangat erat. Sampai-sampai luka dibagian punggungku yang sudah hampir sembuh, terasa sakit kembali saat wanita itu mengelus-elusnya sambil samar-samar berkata “Sabar ya! Kamu yang sabar!” ditengah-tengah isakannya. Aku merasa ada yang menetes di dahiku, air mata wanita itu rupanya.

Wanita itu melepas pelukannya, tapi akupun tak melakukan apa-apa selain berdiri di depan wanita yang merupakan tetangga terdekatku tadi. Aku menyapu sekeliling rumah dengan pandanganku, ada banyak sekali warga. Wajah mereka murung, sedih, dan bahkan ada beberapa yang pipinya dibasahi air mata.
Kini jantungku seperti berhenti berdetak. Pikiranku mulai menerka-nerka apa yang kira-kira terjadi pada Ayah. Entah bagaimana mimikku saat ini, aku bahkan tak sempat mengaturnya.
Sejurus kemudian, lewatlah empat orang pria berpakaian putih. Sepertinya para perawat. Mereka membawa… errr… entahlah, aku tak tahu apa nama besi persegi panjang itu, tapi aku tahu diatasnya terdapat seseorang yang seluruh tubuhnya ditutupi selimut. Apakah itu Ayah? Bahkan aku masih bertanya-tanya.
Wanita tadi lalu menuntunku masuk ke dalam ruang tamu rumahku yang saat ini sangat ramai, kontras dengan hatiku yang hampa.
Aku duduk tepat disamping seseorang yang berbaring itu. Pikiranku kosong sesaat, bahkan aku seperti tidak bisa merasakan apa-apa.

Perlahan, wanita tadi membuka selimut yang menutupi wajah… Ayah! Dia benar-benar ayahku! Salah satu korban gempa yang dinyatakan tewas. Wajahnya sangat pucat dan dipenuhi luka-luka mengerikan.
Walaupun aku sudah sempat menerka-nerka, tetap saja berbeda saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri wajah Ayah. Ayahku kini hanya tinggal jasad. Nafasku sepertinya berhenti.
Entah apa yang menjadi pemacu otot-ototku, aku berdiri dan pergi menerobos kerumunan orang-orang yang kutahu pasti merubah pandangannya terhadapku, dari iba, menjadi heran.

Tapi aku tak peduli. Seperti halnya aku tak peduli dengan keadaan tubuhku. Aku tak merasa pincang kali ini, semua luka-luka ditubuhku pun hilang sakitnya. Kurasa, aku mati rasa.
Ah, persetan dengan apa itu yang disebut rasa. Aku terus berlari menuju kamar paling belakang, tempat ibuku berada. Aku tau rumahku memang cukup besar, tapi sepertinya jarak antara ruang tamu dan kamar ibuku tidak sejauh ini. Kali ini jarak kedua ruangan itu, entah mengapa, jauh lebih jauh.

Aku sampai. Lalu masuk kedalam ruangan besar itu. Sambil mengatur nafas, aku berjalan menuju ke salah satu sudut kamar, tempat dimana ibuku duduk lemas disana.
“Ibu…” panggilku pelan sesaat setelah kakiku berhenti melangkah, aku berada kira-kira 1 meter di depan Ibu.
Ibu menatapku kosong.
Kuhela nafas panjang. “Dia sudah pulang,” ucapku kemudian.

Mata Ibu melebar, walau tetap kosong. Wajahnya terangkat. Aku tahu ia sangat terkejut mendengar kabar yang aku berikan. Tampak sedikit kecemasan dari raut wajah pucat pasinya.
“Tanpa nyawa…” aku melanjutkan kalimatku. “Dia… tewas.” Titik. Aku tahu Ibu tak memerlukan penjelasan apa-apa lagi.
Wajah cemas Ibu seketika berubah cerah saat seutas senyum lega menghiasi wajahnya.
Aku pun tersenyum, sama lepasnya dengan senyum Ibu. Senyum yang sudah sangat lama tak nampak diwajahku, ataupun Ibu.
Jujur, aku tidak pernah sebahagia ini. Terlebih bisa melihat wanita yang selama ini menanggung perih yang sangat dalam, akhirnya tersenyum.

Aku menghampiri kursi roda Ibu dan mendoronnya keluar kamar, menuju ruang tamu.
“Gak sia-sia penantian kita, Bu. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa kita. Mulai hari ini, hidup kita bebas dari manusia laknat itu,” ucapku pada seorang wanita paruh baya yang cacat dan buta, karena kelakuan setan sang suami.

Tulisan 25



CERPEN : ARTI KASIH SAYANGMU BAGIKU

Hai sobat…
Perkenalkan, namaku Mawar Rizqi Imanda. Ibuku adalah pemilik butik ternama di Bandung dan ayahku juga merupakan salah satu pengusaha terkenal di Bandung. Aku mempunyai saudara kembar yang bernama Melati Rizqi Amanda. Kami sekarang duduk di bangku SMA Tunas Bangsa kelas 3. Aku masuk kelas 3 IPS sedangkan Melati duduk di kelas 3 IPA. Perlu kalian ketahui sobat, biarpun kami kembar tapi kami punya karakter dan sifat yang berbeda 180o. Aku yang cenderung tomboy, cerewet, nakal, manja, kasar, dan pemalas berbeda sekali dengan Melati yang lebih dewasa, baik, sopan, ramah, rajin, mandiri, dan tentunya cantik dan pintar. (Eh, tapi aku juga gak kalah cantik dan pintar kok,, hhe). Tapi aku akui, Melati itu lebih pintar dariku. Makanya Ia bisa masuk kelas IPA. Melati itu orangnya pendiam dan gak banyak bicara. Dan itu membuat cowok-cowok satu sekolah mati penasaran karnanya. Sudah banyak cowok yang ngedeketin Melati, tapi setahuku selalu ditolak dengan alas an pengen fokus sekolah. Padahal cowok yang ngedeketin Melati tuh gak cuma ganteng n keren tapi juga juara kelas. Bahkan salah satu cowok paling popular dan udah berkali-kali mewakili sekolahpun bernasib malang kayak yang lain, alias ditolak juga. 

Huft……… bener-bener deh…
Tapi aku sangat bangga punya saudara kayak Melati. Amat sangat bangga sekali… Hhe,, lebay...
Sampai suatu ketika, ada anak baru pindahan dari SMU Tunas Mulia Surabaya, namanya Reza. Wajahnya yang ala-ala Korea itu bikin murid-murid cewek satu sekolah klepek-klepek, termasuk aku. Tapi pengecualian buat si Melati. Postur tubuh yang tinggi dengan kulitnya yang putih persis kayak orang Korea itu menambah pesona bagi murid cewek. Wow…
Tapi sayangnya Reza tidak sau kelas denganku. Ia satu kelas dengan Melati. Awalnya aku sedikit putus asa karena Reza tidak satu kelas denganku, tapi mulai muncul secercah harapan di benakku. Aku pikir, Melati bisa membantuku mendekati Reza. Ya… aku mulai lega akan hal itu.

Awalnya Melati setuju akan rencanaku dan bersedia membantuku. Akupun sering pergi jalan dengan Reza atas bantuan Melati. Ia juga mendukungku. Tapi lama-kelamaan aku merasa Reza lebih dekat dengan Melati daripada aku. Walaupun selama ini Melati tidak pernah tertarik dengan urusan cowok, tapi aku mulai merasa takut jika Melati juga menyukai Reza. Karena sepertinya Melati lebih terbuka jika dengan Reza. Bahkan Ia sempat berkata padaku,
“Mawar, ternyata Reza itu beda ya…,” tiba-tiba Melati mengatakan hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tapi aku berusaha menanggapinya dengan sewajarnya.
“Iya… Tapi kenapa tiba-tiba kamu ngomong gitu sih? Bukannya selama ini kamu paling ogah sama urusan cowok ya?!”tanyaku menyelidik.
“Uhm,,, emangnya aku salah ya, kalau aku juga pengen punya temen cowok. Selama ini kan, aku selalu menutup diri”.
“Gak salah sih… Cuma aneh aja. Tapi ya udah lah, gak usah dipikirin. Aku ngantuk nih, tidur duluan ya…,”ucapku seraya membalikkan tubuhku memunggungi melati.
“Hm…”.

Setelah itu percakapan berakhir. Aku sempat melihat Melati tersenyum sendiri membayangkan sesuatu yang entah apa itu. Aku berpikir positif saja. Aku rasa hal itu wajar-wajar saja bagi remaja SMA. Tapi semakin lama, aku melihat Melati sering jalan berdua dengan Reza. Mereka juga kelihatan enjoy satu sama lain. Aku mulai merasa iri dengan Melati. Tapi aku selalu mencoba menghilangkan rasa iri itu. Karena bagaimanapun juga Melati adalah saudaraku. Tidak mungkin Ia tega menyakitiku, terlebih dia tahu kalau aku menyukai Reza. Dan puncaknya adalah pada malam itu…
“Melati, aku pengen ngomong jujur sama kamu,”ucap Reza tampak serius.
“Mau ngomong apa, Za? Serius banget…,” tanya Melati dengan senyum khasnya itu.

Perlahan Reza memegang tangan Melati,,,
“Mel, sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu. Aku pengen hubungan kita lebih dari sekedar teman atau sahabat.”

Deg...
Aku yang saat itu sedang mencari udara segardi luar tidak sengaja mendengar percakapan itu. Aku tertegun... Kakiku serasa lemas dan sulit digerakkan. Air mataku jatuh tak terbendung. Namun, aku berusaha tenang karena Melati belum memberikan jawaban.
“Kamu bercanda kan, Za? Aku tau Mawar itu suka sama kamu... Mana mungkin aku bisa melakukan itu?!” Melati mulai terisak menahan tangis.
“Aku tau Mel... Tapi kamu gak bisa paksa aku buat suka sama Mawar. Aku yakin Mawar bisa dapetin yang lebih dari aku. Aku juga yakin dia gak akan marah kalau kamu terima aku,” kata-kata Reza mulai membuatku teriris. Orang yang kusukai ternyata menyukai saudaraku sendiri.
“Tapi, gimana kalau Mawar marah dan jadi benci sama aku?! Aku sayang sama dia. Aku gak mau buat dia sedih. Mawar sangat berarti buat aku, Za...,” ucap Melati semakin terisak.
Reza langsung memeluk Melati. Aku yang saat itu sedang terpukul dan gundah tidak begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Melati. Perasaanku yang bercampur-aduk ini membawaku melangkah mendekati mereka.

Aku yang terbawa emosi langsung menarik Melati dari Reza hingga membuatnya terjatuh. Melati yang menyadari keadaanku saat itu tersentak kaget.
“Mawar?! Kenapa kamu dorong aku? Kamu harus denger penjelasan aku dulu...,” Melati mencoba bangkit untuk berdiri.
“Penjelasan apa lagi, Mel?! Kamu tau kan kalau aku suka sama Reza! Kenapa kamu lakuin ini ke aku?! Diam-diam kamu juga suka kan sama Reza?!” emosiku meledak-ledak.
“Enggak Mawar... Kamu denger dulu...”
“Halah... Harusnya kamu bilang dari dulu, Mel. Jadi aku gak akan ngerasain sakit ini,” aku mmotong ucapan Melati.
Setelah aku berdebat hebat dengan Melati, aku berlari tanpa menyadari ada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan penuh, dan...

Braakkk....
“Melatiii......,” suara Reza terngiang di telingaku.
Aku baru sadar jika Melati mendorongku ke pinggir jalan sehingga Ialah yang tertabrak mobil itu. Tubuhku gemetaran... Aku berusaha mendekat ke arah Melati.

Dengan terbata-bata, Melati sempat berkata sesuatu padaku,
“Mawar,, maafin aku ya... Aku gak bermaksud menyakiti kamu...,” aku menangis sambil memegang tangan Melati.
“Iya Mawar,, sebenarnya tadi Melati nolak aku dan itu demi kamu...,” Reza juga ikut menjelaskan dengan suara parau.
“Jadi... kalian gak jadian?” tanyaku kaget.
“Enggak Mawar...,” kata Melati terbata-bata.

Setelah semuanya jelas, aku sangat menyesal telah menuduh Melati yang bukan-bukan. Aku menangis sejadi-jadinya dan minta maaf padanya. Tak lama kemudian ayah dan ibu datang bersamaan dengan ambulance. Pada saat yang bersamaan Melati mengucapkan kata-kat terakhirnya,
“Ayah, ibu, Mawar, Reza... Makasih buat semuanya ya... Kalian sangat berarti di hidupku...”

Melati menghembuskan nafas terakhirnya. Walaupun berat, kami semua berusaha mengikhlaskan kepergian Melati.
“Melati... Biarpun raga kita jauh, tapi hati kita tetap satu... Aku janji akan menjadi orang yang lebih baik dari ini. Kami disini menyayangi Melati... Selamat jalan... Semoga kau tenang dan bahagia disana...”.
Itulah kata-kata terakhir yang sempat kuucapkan. Sejak saat itu, aku mulai mengerti dan menyadari bahwa Melati sangat menyayangiku. Kasih sayangnya begitu besar untukku. Seorang saudara yang mengasihiku lebih dari apapun. Saudara yang akan selalu kukenang sampai akhir hayatku. Dan karnanya, aku bisa menjadi orang yang lebih baik dan mengerti akan arti kasih seorang saudara itu... Thanks Mel...

-End-

Tulisan 24



CERPEN : PAHITNYA PENGHIANATAN ITU

Namaku adalah Nada , aku bersekolah disalah satu SMA di bandung . kata org sih aku ini orgnya ceria and baik . aku punya seorang kekasih namanya Raka dan satu orang sahabat namanya Dea .... aku berpacaran dengan Raka sejak aku kelas 2 SMP hingga aku kelas 2 SMA dan tak terasa hubungan kami sudah berjalan 4 tahun dari dulu hingga sekarang kami berdua selalu satu kelas ,begitupun dengan Dea aku selalu satu kelas juga dengannya karena Dea adalah sahabat aku sejak kecil.

Hari-hariku ku jalani bersama Raka aku sayang banget sama Raka dia tidak pernah mengecewakanku dia selalu ada untukku . bahkan dia selalu ingat hari ulang tahunku dan hari jadian kami berdua . setiap tahun kami berdua selalu merayakan hari ultahku dan hari jadian kami secara bersamaan karena hari jadian kami tepat pada hari ulang tahunku .


Hubungan kami berjalan baik komunikasi kami selalu lancar. hingga pada suatu hari aku mulai merasakan perubahan Raka , dia sekarang jarang sms aku apalagi nelpon aku , di kelas dia suka melamun dan tak menghiraukan aku , dan yang lebih mengherankan lagi Raka sekarang lebih dekat dengan Dengan Dea dibandingkan denganku . tapi segera aku buang jauh-jauh pikiran itu , mungkin saja Raka sibuk sehingga dia sempat sms atau nelpon aku , dan kedekatan Dea dengan Raka itu hanya sebatas teman ..

Malam ini aku begitu gelisah karena menunggu balasan sms Raka , aku telpon gak diangkat . kucoba untuk mengsms Raka kembali
'' sayang kok sms aku gak dibales , kamu sibuk ya ??? ''
begitulah bunyi smsku yang ku kirim kepada Raka
lama sekali aku menunggu balasannya hingga pada akhirnya aku tertidur ..

Hari ini adalah hari minggu , biasanya setiap hari minggu aku dan Raka selalu jalan-jalan ke pantai atau ke alun-alun kota . akupun berniat untuk mengajak Raka ke pantai. aku langsung menghubungi Raka
'' tut...tut " bunyi sambungan
" hallo sayang " terdengar suara Raka
"ia hallo , sayang kita ke pantai yuk , kan hari ini hari minggu" jawabku dengan bahagia karena sudah lama aku tidak bicara dengan Raka
"maaf ya sayang aku gak bisa soalnya aku lagi sibuk disuruh Om Darma ngetik dokumen"
Jawab Raka
"oh... ya sudah gak papa kok sayang , lain kali aja ' ya udah kamu ketik aja dokumennya ... beyyy.." jawabku langsung menutup telpon .
lagi-lagi aku harus menerima kenyataan yang seperti ini ..
ada apa dengan raka mengapa dia sekarang berubah sikapnya sama aku Raka yang dulu sudah tidak ada lagi yang ada hanya ada Raka yang tak peduli lagi terhadapku...
aku yang tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri ke pantai ...
Sesampainya di pantai aku langsung disambut oleh hembusan angin yang menyejukkan hatiku yang memang saat ini dalam keadaan kacau , dan ditambah lagi pemandangan-pemandangan yang indah , dan suara ombak pantai yang syahdu .. karena hari ini hari minggu jadi pengunjungnya banyak ..
aku brjalan di tepi-tepi pantai tanpa arah dan tujuan sambil mengingat masa laluku bersama raka di pantai ini ....
hingga akhirnya langkah-langkah ku terhenti saat melihat dua orang yang tak asing lagi di mataku berjalan layaknya seorang kekasih sambil bergandengan tangan .
betapa terkejutnya ketika mengetahui dua orang kekasih itu adalah sahabtku dan kekasihku sendiri . aku benar-benar tak percaya denngan semua ini , ternyat sahabatku sendiri yang telah membuat Raka berubah akhir-akhir ini , kenapa dea bisa begitu tega melakukan semua ini terhadapku sahabat yang aku kenal sejak kelas 1 SD , dan kenapa Raka bisa menyukai Dea sahabatku dendiri .. apa salahku , apakah aku kurang perhatian , tapi aku rasa tidak , aku selalu perhatian sama raka , bahkan pada saat raka sakit aku rela bangun dari tidurku tengah malam untuk membelikannya obat dan datang ke rumahnya ...

Aku tak sanggup lagi menahan air mataku , tiba-tiba Raka melihatku ia serontak saja kaget dan langsung melepaskan tangannya dari dea
"Nada" raka berkata dengan gugup
"jadi ini yang loe bilang lagi sibuk "
"nad aku bisa jelasin semua ini" kata raka
"jelasin apalagi semuanya sudah jelas , loe tu udah ngebohongin gue , apa salh gue sama loe , selama ini gue udah berusaha menjadi kekasih yang baik buat loe selama 4 tahun ini , tapi apa yang loe lakuin ke gue loe malah ngianatin gue , dan loeDea gue gak nyangka ternta loe tu musuh dalam selimut ' punya dendam apa loe ama gue "
kata-kataku terlontar begitu saja tanpa aku sadari
"maafin gue Nad" dea berkata sambil tertunduk
"maaf loe bilang , semudah itu loe bilang kata maaf ; loe pikir semudah itu buat maafin loe"
"ia gue tau tapi mau gie mana lagi gue udah terlanjur syang sama raka gue udah berusaha menghilangkan rasa cintaku sama raka tapi gue gak bisa , begitupun dengan raka gue syang raka dan raka juga sayang sama gue kami berdua saling mencintai" tutur dea
"raka benarkah yang dikatakan dea itu ???"
"nad maafin gue,sebenarnya gue sayang ama loe dan gue juga sayang ama dea gue bingung nad"
"oke kalo loe gak bisa milih antara gue dan dea mending gue aja yang pergi , gue gak bisa kayak gini , makasih atas cinta loe selama ini ama gue , sampai kapanpun loe gak akan pernah mengerti rasa sakit ini "
"maafin gue nad"

Akupun berlari meninggalkan dea dan raka yang telah menyakitiku . aku benar-benar hancur saat ini kenapa ini bisa terjadi , kini persahabatanku dengan dea telah berakhir dan hubunganku dengan raka juga sudah berakhir , rasanya menyakitkan sekali harus kehilangan dua orang yang aku sayangi , tapi mereka juga yang telah melukaiku aku tak tau harus memulai dari mana hari-hariku tanpa kehadiran raka , hubungan yang kurajut selama 4 tahun berakhir menyakitkan...

Kini hari-hariku kujalani seratus delapan puluh derajat berbeda dengan yang duluaku pindah ke sekolah lain agar aku dapat melupakan kejadian itu , dan aku juga memulai lembran baru tanpa raka dan dea ... kini aku menjadi wanita yang cuek dan tak mau lagi mengenal pacaran dan persahabatan ....

Biarlah aku seperti ini aku yakin seiring berjalannya waktu pasti suatu saat kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya . dan luka itu akan hilang dihapus waktu ....

TAMAT

SUMBER : http://www.jawarabanten.com/2013/01/pahitnya-penghianatan-itu-cerpen-cinta.html

Tulisan 23





MUSUH JADI SAHABAT, SAHABAT JADI MUSUH
Oleh Imel

Sahabat...
dulu engkau yang selalu bersama ku
menemaniku dikala aku sedang kesepian
menolong ku disaat aku dihadapi cobaan
mengingatkan ku diwaktu aku hampir melakukan hal yang salah

Tapi mengapa engkau jadi begini
kau tak lagi ada saat aku membutuhkanmu
kau tak lagi menolong ku
kau tak ada lagi di sisi ku

Sekarang engkau telah bersama dia
musuh ku
musuh kita dulu
engkau telah menghianati persahabatan kita

Dengan berat hati aku harus melupakanmu
melupakan kenangan kita
dan memulai hidup kita
sebagai MUSUH

Tapi mengapa engkau harus begini
membuka semua rahasia yang sudah kita simpan dengan rapat
hanya kita berdua yang tau
mengapa engkau tega melakukan semua ini

Apakah kau tak ingat siapa yang menolong mu?
apakah kau tak tau siapa yang mendukung mu?
apakah kau lupa, aku yang sering mengingatkan mu?
aku juga yang selalu menemanimu

Kau tak pernah tau betapa sakitnya hati ini
sekarang kau menghina ku
memfitnah ku
kau tak pernah menyadari kesalahan mu
kau selalu ingin menang sendiri
kau munafik
tanpa berdosa kau mencemoohku
betapa banyak bualan mu itu?

Kau memang tak pernah menyadarinya
dan kau tak akan bisa berubah sebelum kau tau apa yang t'lah kau perbuat
tak kan ada yang mau bersamamu jika kau terus begini
hentikan sifat burukmu itu!
semoga kau mengerti

sumber : http://www.lokerpuisi.web.id/2012/06/musuh-jadi-sahabat-sahabat-jadi-musuh.html