SUMBER
DAYA KONSUMEN.
Kebutuhan hidup manusia itu banyak sekali dan beraneka ragam,
sedangkan barang dan jasa sebagai alat pemuas kebutuhan sangat terbatas.
Kenyataan inilah yang menjadi inti masalah ekonomi. Masalah ekonomi dihadapi
oleh umat manusia, apakah mereka sebagai perseorangan, keluarga, perusahaan,
atau negara. Pokok persoalannya adalah: bagaimanakah dengan
sumber-sumber yang terbatas, manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang
banyak dan beraneka ragam.
Apa manfaat sumber daya manusia?
Dengan kualitas sumberdaya manusia yang semakin meningkat, akan
dapat mendorong peningkatan produktivitas ekonomi sekaligus sebagai modal dasar
untuk memacu pertumbuhan ekonomi.Bagi kebayakan negara-negara yang tingkat
pembangunan ekonominya sudah tergolong lebih maju, produktivitas sumberdaya
manusia secara teknis telah dijadikan sebagai instrumen terpenting untuk
mempertahankan pencapaian laju pertumbuhan ekonomi, sekaligus dalam upaya untuk
memperkuat basis struktural perekonomiannya.
1.
Sumber Daya Ekonomi.
Potensi sumberdaya ekonomi
atau lebih dikenal dengan potensi ekonomi pada dasarnya dapat diartikan sebagai
sesuatu atau segala sesuatu sumberdaya yang dimiliki baik yang tergolong pada
sumberdaya alam (natural resources/endowment factors) maupun potensi sumberdaya
manusia yang dapat memberikan manfaat (benefit) serta dapat digunakan sebagai
modal dasar pembangunan (ekonomi) wilayahtingkat ketergantungan terhadap
sumberdaya secara struktural harus bisa dialihkan pada sumberdaya alam lain.
Kasus persolan yang
sifatnya nasional (warisan rejim lama) dan juga persoalan-persoalan baru yang
muncul dari pelaksanaan Otonomi Daerah yang “sembrono”, fenomena globalisasi
ekonomi juga akan sangat berpengaruh besar terhadap prospek nilai-nilai budaya
lokal dan kearifan tradisional sebagai landasan penguatan kelembagaan lokal
dalam pengelolaan sumberdaya dan keanekaragaman hayati.
Globalisasi ini menjadi
perlu dicermati sebagai tahapan lanjut dari periode pembangunanisme yang dianut
oleh Rejim Otoriter-Militeristik Orde Baru yang nyata-nyata telah
menghancur-leburkan ekosistem-ekosistem penting Indonesia serta
memporak-porandakan pranata-pranata ada/lokal yang selama ratusan tahun menjadi
penjaga dan pengelola sebagian besar dari ekosistem-ekosistem tersebut.
Perjalanan pembangunan di Indonesia mencatat banyak sekali penggusuran dan
penindasan yang menyedihkan bagi berbagai kelompok masyarakat, khususnya
masyarakat adat, yang diwarnai oleh tindakan-tindakan kekerasan negara dan
sekaligus memfasilitasi kekerasan horizontal antar kelompok masyarakat.
Kalau ditelusuri lebih jauh, maka pembangunan yang umumnya dianut oleh negara-negara berkembang adalah industrialisasi. Sebagai negara yang kaya sumber daya alam, Indonesia pun mengembangkan industri yang berbasis sumber daya alam. Celakanya, sebagian besar sumber daya lalam ini, secara tradisional sudah ada penguasa dan pemiliknya, yaitu masyarakat adat, yang juga memiliki kepentingan yang lebih luas atas sumber daya tersebut. Nilai-nilai, ide dan konsep pembangunan itu memang diimpor atau diadopsi dari “barat”. Pembangunan adalah kata lain dari modernisasi. Dari sini muncullah anggapan dan keyakinan baru di masyarakat bahwa jiwa Indonesia ini kita inginkan menjadi negara modren,maka segala sesuatu yang tradisional(lisan) harus dibuang karena dianggap terbelakang dan menghambat pembangunan. Paradigma modernisasi demikian, langsung dan tidak langsung, telah menyudutkan dan melemahkan posisi masyarakat adat itu sendiri dengan menempatkan tradisi dan nilai-nilai asli bangsa ini menjadi sesuatu yang jelek (inferior) terhadap nilai-nilai “barat” yang modern sebagai sesuatu yang baik (superior).
Kalau ditelusuri lebih jauh, maka pembangunan yang umumnya dianut oleh negara-negara berkembang adalah industrialisasi. Sebagai negara yang kaya sumber daya alam, Indonesia pun mengembangkan industri yang berbasis sumber daya alam. Celakanya, sebagian besar sumber daya lalam ini, secara tradisional sudah ada penguasa dan pemiliknya, yaitu masyarakat adat, yang juga memiliki kepentingan yang lebih luas atas sumber daya tersebut. Nilai-nilai, ide dan konsep pembangunan itu memang diimpor atau diadopsi dari “barat”. Pembangunan adalah kata lain dari modernisasi. Dari sini muncullah anggapan dan keyakinan baru di masyarakat bahwa jiwa Indonesia ini kita inginkan menjadi negara modren,maka segala sesuatu yang tradisional(lisan) harus dibuang karena dianggap terbelakang dan menghambat pembangunan. Paradigma modernisasi demikian, langsung dan tidak langsung, telah menyudutkan dan melemahkan posisi masyarakat adat itu sendiri dengan menempatkan tradisi dan nilai-nilai asli bangsa ini menjadi sesuatu yang jelek (inferior) terhadap nilai-nilai “barat” yang modern sebagai sesuatu yang baik (superior).
Dengan cara yang
berkembang demikian, bahkan banyak di antara masyarakat adat sendiri sering
melupakan bahwa mereka memiliki kekuatan (pengetahuan, teknologi, pranata adat)
untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh program “pembangunan” yang memuliakan
hidup mereka, atau sebaliknya melakukan perlawanan atas program “pembangunan”
yang tidak diinginkan. Sebagai konsep yang diadopsi dari “barat”, nilai yang
terkandung dalam pembangunan kita, yang juga dianut oleh globalisasi ekonomi,
berakar pada individualisme yang, dalam banyak hal, bertolak-belakang dari
prinsip dasar komunitas-komunitas masyarakat adat di Indonesia umumnya yang
komunalistik dan kolektif baik dalam hal penguasaan sumberdaya maupun dalam
upaya pengelolaannya untuk keadilan dan kesejahteraan bersama.
2.
Sumber Daya Sementara .
A. Barang yang Menggunakan
Waktu.
Produk yang memerlukan
pemakaian waktu dala mengkonsumsinya. Contoh: Menonton TV, Memancing, Golf,
Tennis (waktu Senggang) Tidur, perawatan pribadi, pulang pergi (waktu wajib).
B. Barang Penghemat Waktu.
Produk yang menghemat
waktu memungkinkan konsumen meningkatkan waktu leluasa mereka. Contoh: oven
microwave, pemotong rumput, fast food.
3.
Sumber Daya Kognitif.
adalah kepemimpinan teori
psikologi industri dan organisasi yang dikembangkan oleh Fred Fiedler dan Joe
Garcia pada tahun 1987 sebagai konseptualisasi dari model kontingensi Fiedler .
Teori ini berfokus pada pengaruh pemimpin intelijen dan pengalaman tentang nya
atau reaksinya terhadap stres .
Inti dari teori ini adalah
bahwa stres adalah musuh rasionalitas, merusak kemampuan pemimpin untuk
berpikir logis dan analitis. Namun, pengalaman pemimpin dan kecerdasan dapat
mengurangi pengaruh stres pada (atau dia) nya tindakan: kecerdasan adalah
faktor utama dalam situasi stres rendah, sementara jumlah pengalaman selama
lebih selama-saat stres.
Contoh Kasus :
Psikologi kognitif
menyatakan bahwa perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada
dari luar dirinya, melainkan oleh faktor yang ada pada dirinya sendiri.
Faktor-faktor internal itu berupa kemampuan atau potensi yang berfungsi untuk
mengenal dunia luar, dan dengan pengalaman itu manusia mampu memberikan respon
terhadap stimulus. Berdasarkan pandangan itu, teori psikologi kognitif
memandang belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama
unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari
luar. Dengan kata lain, aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada
proses internal dalam berfikir, yakni proses pengelolaan informasi.
Kegiatan pengelolaan
informasi yang berlangsung di dalam kognisi itu akan menentukan perubahan
perilaku seseorang. Bukan sebaliknya jumlah informasi atau stimulus yang
mengubah perilaku. Demikian pula kinerja seseorang yang diperoleh dari hasil
belajar tidak tergantung pada jenis dan cara pemberian stimulus, melainkan
lebih ditentukan oleh sejauh mana sesaeorang mampu mengelola informasi sehingga
dapat disimpan dan digunakan untuk merespon stimulus yang berada di
sekelilingnya. Oleh karena itu teori belajar kognitif menekankan pada cara-cara
seseorang menggunakan pikirannya untuk belajar, mengingat dan menggunakan
pengetahuan yang telah diperoleh dan disimpan di dalam pikirannya secara
efektif.
4.
Pengetahuan Organisasi .
Pengetahuan Konsumen akan
Mempengaruhi Keputusan Pembelian.
Apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli, dimana membeli dan kapan membeli akan tergantung kepada pengetahuan konsumen mengenai hal-hal tersebut.
Pengetahuan Konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk, serta pengetahuan lainnya yang terkait dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.
Apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli, dimana membeli dan kapan membeli akan tergantung kepada pengetahuan konsumen mengenai hal-hal tersebut.
Pengetahuan Konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk, serta pengetahuan lainnya yang terkait dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.
1)
Pengetahuan tentang karakteristik/atribut
produk.
2)
Pengetahuan tentang
manfaat produk.
3)
Pengetahuan tentang
kepuasan yg diberikan produk kepada konsumen.
4)
Manfaat Fungsional, yaitu
manfaat yg dirasakan konsumen secara fisiologis
5)
Manfaat Psikososial, yaitu
aspek psikologis dan aspek sosial yang dirasakan konsumen setelah mengkonsumsi
suatu produk.
Mengukur Pengetahuan
Pengetahuan konsumen
terdiri dari informasi yang disimpan di dalam ingatan. Pemasar khususnya
tertarik untuk mengerti pengetahuan konsumen. Informasi yang dipegang oleh
konsumen mengenai produk akan sangat mempengaruhi pola pembelian mereka.
Di dalam Psikologi
kognitif dijelaskan bahwa ada dua jenis pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan
deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif melibatkan fakta
subjektif yang sudah diketahui. Pengetahuan deklaratif sendiri dibagi menjadi
dua kategori, yaitu pengetahuan episodik (melibatkan pengetahuan yang dibatasi
dengan lintasan waktu) dan pengetahuan semantik (mengandung pengetahuan yang
digeneralisasikan dan memberi arti bagi dunia seseorang). Sedangkan pengetahuan
prosedural mengacu pada pengertian bagaimana fakta ini dapat digunakan. Fakta
ini juga bersifat subjektif dalam pengertian fakta tersebut tidak perlu sesuai
dengan realitas objek.
Contoh Kasus tentang masalah konsumen :
Seorang konsumen yang
sedang menjalankan proses diet dan ingin memutuskan untuk membeli makanan
ringan. Sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian, konsumen cenderung
melihat ingredients atau komposisi yang terdapat dalam produk makanan ringan
tersebut. Setelah memperoleh informasi yang positif terhadap produk tersebut,
konsumen biasanya langsung mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar